Solusi Kimia Hijau Atasi Biaya Pupuk Diterapkan pada Kelompok Tani Karya Tani dan Sedap Malam

Suasana saat foto bersama

Zonaikn.com, Samarinda- Tim Dosen Jurusan Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Mulawarman (UNMUL) sukses menyelenggarakan program pengabdian masyarakat inovatif di Sido Rejo, Lempake, Samarinda, pada 22 November 2025. Program ini melibatkan Kelompok Tani Karya Tani dan Kelompok Tani Sedap Malam dalam pelatihan pembuatan Pupuk Slow Release (Pelepasan Lambat) berbasis Green Chemistry, memanfaatkan potensi alam lokal Zeolit dan limbah Kulit Lai.

Program ini merupakan jawaban atas tantangan biaya produksi pertanian yang tinggi serta isu pencemaran lingkungan akibat pupuk kimia konvensional. Ketua Tim Pengabdian dari Kimia UNMUL menjelaskan, pupuk slow release bekerja dengan prinsip pelepasan nutrisi secara bertahap, sehingga nutrisi tidak mudah tercuci dan dapat diserap tanaman secara optimal dalam jangka waktu yang lebih lama. Terobosan yang didasarkan pada prinsip Kimia Hijau—memanfaatkan sumber daya alam dan limbah lokal untuk menciptakan produk yang efisien dan minim dampak lingkungan. Kunci keberhasilan pupuk ini terletak pada sinergi tiga material padatan: Zeolit Alam, Arang Aktif dari Kulit Lai, dan Kompos Matang.

“Kami memanfaatkan Zeolit Alam sebagai matriks pengikat kation dan mengubah limbah Kulit Lai menjadi arang aktif untuk meningkatkan daya serap,” ujarnya.

Kolaborasi dengan Kompos Matang menghasilkan pupuk yang mampu menstabilkan pasokan hara untuk tanaman .

Dijelaskan lebih detail bahwa, Zeolit Alam berperan sebagai “gudang” nutrisi utama. Secara struktural, Zeolit memiliki rongga dan muatan negatif yang memungkinkannya menangkap dan mengikat ion-ion nutrisi penting (seperti K+, Ca2+) dari pupuk.

Kemampuan tinggi dalam menukar kation (KTK) ini sangat krusial karena Zeolit mencegah nutrisi tersebut hilang sia-sia akibat pencucian (leaching) oleh air, sebuah masalah umum pada pupuk konvensional. Nutrisi baru akan dilepaskan secara bertahap saat akar tanaman membutuhkan.

Baca juga :  DPRD Kaltim Gelar Rapat Paripurna ke-10
Pupuk ramah lingkungan

Kedua, Arang Aktif diciptakan dari limbah Kulit Lai, sebuah praktik yang merupakan perwujudan sempurna dari Green Chemistry karena mengubah sampah menjadi material bernilai tinggi. Arang aktif ini memiliki daya serap yang luar biasa karena luas permukaannya yang sangat besar. Ia membantu Zeolit dalam menahan air dan nutrisi, sekaligus berfungsi memperbaiki struktur tanah, meningkatkan aerasi, dan menciptakan lingkungan yang lebih subur bagi mikroorganisme.

Ketiga, Kompos Matang menyediakan pasokan nutrisi organik esensial seperti N, P, dan K. Ketika dicampur ke dalam matriks Zeolit dan Arang Aktif, nutrisi dari Kompos ini ikut terikat dan pelepasan haranya diatur oleh aktivitas alami mikroorganisme tanah. Kolaborasi Zeolit, Arang Aktif, dan Kompos inilah yang menciptakan mekanisme stabilisasi pasokan hara, memastikan tanaman mendapatkan asupan gizi yang konstan, bukan hanya dalam dosis instan yang cepat habis.

Melalui inovasi ini, petani di Lempake menuai manfaat ganda. Secara ekonomi, sistem slow release ini memungkinkan pengurangan frekuensi pemupukan yang drastis, yang berarti penghematan signifikan pada biaya pembelian pupuk dan upah tenaga kerja. Secara ekologi, pupuk ini mendukung pertanian berkelanjutan dengan meminimalkan pencemaran air tanah. Nutrisi yang terikat kuat tidak hanyut ke lingkungan, dan pemanfaatan limbah Kulit Lai menunjukkan bahwa solusi ramah lingkungan dapat ditemukan dari potensi lokal.

Kehadiran program ini disambut antusias oleh perwakilan Kelompok Tani Sedap Malam dan Karya Tani yang diwakili oleh pak Slamet, yang kini memiliki bekal keterampilan untuk memproduksi pupuk ramah lingkungan secara mandiri. Pihak UNMUL berharap inovasi ini menjadi langkah awal menuju ketahanan pangan lokal yang lebih efisien dan berbasis sumber daya daerah.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *