Raup Desak Perumda AMDT Perkuat Antisipasi Krisis Air Saat Kemarau

Teks foto: Produksi air bersih di PPU mulai menyusut imbas kemarau. (Ist)

Zonaikn.com, PENAJAM – Menurunnya kemampuan produksi air bersih Perumda Air Minum Danum Taka (AMDT) di tengah musim kemarau mendapat sorotan dari DPRD Penajam Paser Utara (PPU).

Ketua DPRD PPU Raup Muin meminta perusahaan daerah tersebut tidak menjadikan kondisi cuaca sebagai alasan utama ketika pelayanan air kepada masyarakat mulai terganggu.

Bacaan Lainnya

Penurunan debit sumber air baku di Sungai Lawe-Lawe berdampak langsung terhadap kapasitas produksi Perumda AMDT. Dari kondisi normal sekitar 140 liter per detik, produksi dilaporkan turun menjadi kurang lebih 80 liter per detik.

Sementara itu, elevasi air baku yang sebelumnya berada di kisaran 215 sentimeter disebut telah menyusut hingga sekitar 160 sentimeter.

Kondisi tersebut berpotensi memengaruhi kelancaran distribusi air bersih, khususnya bagi pelanggan di wilayah Kecamatan Penajam.

Raup menilai situasi tersebut semestinya sudah masuk dalam perhitungan manajemen perusahaan. Sebab, periode kemarau bukan merupakan fenomena yang datang tanpa dapat diprediksi sehingga langkah mitigasi seharusnya telah disiapkan sejak jauh hari.

“Ini musim kemarau sudah diperkirakan jauh sebelumnya. Harusnya sudah disiapkan langkah antisipasinya dari awal. Tidak masuk akal kalau Perumda justru mengaku tidak mampu atau kedapatan tidak siap saat kondisi ini terjadi,” kata Raup, Kamis (10/9).

Menurutnya, keberlangsungan layanan air bersih harus menjadi prioritas utama perusahaan daerah. Terlebih air merupakan kebutuhan dasar masyarakat sehingga gangguan pasokan akan langsung berdampak terhadap aktivitas warga.

Sorotan Raup tidak hanya tertuju pada kesiapan teknis menghadapi kemarau. Ia juga mempertanyakan bagaimana Perumda AMDT mengelola keuntungan yang diperoleh dari aktivitas usahanya.

Baca juga :  Perda RTH PPU Tuntas Diharmonisasi

Ia menilai pendapatan perusahaan seharusnya dapat diarahkan untuk memperkuat infrastruktur dan cadangan sumber air, bukan terlalu banyak terserap untuk kegiatan yang tidak berkaitan langsung dengan peningkatan pelayanan kepada pelanggan.

“Perumda ini kan profit, ada untungnya. Kalau bicara profit, kenapa tidak disiapkan dari awal untuk infrastruktur masyarakat, jangan malah mengutamakan acara seremonial, seminar di Jakarta. Biayanya dari mana, itu kan dari uang rakyat yang membeli air,” ujarnya.

Raup menyebut sejumlah kebutuhan yang dapat menjadi prioritas investasi, seperti pembangunan penampungan air cadangan, embung maupun optimalisasi jaringan intake.

Infrastruktur semacam itu dinilai penting untuk meningkatkan ketahanan sistem penyediaan air ketika sumber air baku mengalami penurunan.

Ia pun meminta manajemen Perumda AMDT memperkuat perencanaan perusahaan, baik melalui master plan maupun business plan.

Perencanaan tersebut harus mampu membaca risiko yang berpotensi mengganggu pelayanan dan menentukan langkah penanganannya sejak awal.

“Sebenarnya sudah bisa mengantisipasi dengan kemarau yang terjadi tiap tahun. Jadi perencanaan di awal sebenarnya sudah harus matang,” tandas Raup.

Raup menegaskan, pembatasan penggunaan air oleh pelanggan memang dapat menjadi langkah sementara ketika pasokan menurun. Namun, kebijakan tersebut tidak seharusnya menjadi satu-satunya strategi menghadapi persoalan yang bersifat musiman.

Ia berharap Perumda AMDT menjadikan kondisi saat ini sebagai evaluasi terhadap sistem pengelolaan air baku sekaligus mempercepat langkah untuk membangun ketahanan pasokan. Dengan begitu, persoalan serupa tidak kembali berulang setiap kali PPU memasuki musim kemarau. (Adv/Lln)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *